KUNINGANPRESS.COM – (10/12/25) Setiap tanggal 10 Desember, dunia kembali menggaungkan Hari Hak Asasi Manusia (HAM). Tapi di tengah gemuruh era digital ini, sering kali gema itu tenggelam oleh suara-suara kebencian, ujaran yang sarkas, dan budaya saling menjatuhkan. Ironis sekali, bukan? Kita hidup di era yang katanya paling maju secara teknologi, tapi justru sering paling miskin secara empati.
Hak Asasi Manusia itu bukan hanya sekadar wacana global atau hanya kutipan pasal di PBB saja. HAM itu sederhana,hak untuk hidup dengan bermartabat, bebas dari ketakutan, diakui keberadaannya, dan dihargai perbedaannya. Namun sangat di sayangkan sekali dengan realitanya, di zaman yang serba cepat ini, malah banyak manusia yang justru kehilangan “rasa manusiawi” itu sendiri.
Di media sosial, kita mudah menghakimi tanpa tahu latar belakang. Di jalan, kita acuh pada yang tertindas. Di dunia kerja, masih banyak yang kehilangan hak karena tekanan ekonomi. Di sisi lain, suara anak muda yang bicara soal keadilan sering dianggap terlalu idealis. Toh Padahal, justru dari idealisme ini lah perubahan itu akan lahir.
Refleksi Hari HAM seharusnya tidak berhenti pada peringatan saja, tapi untuk menjadi sebuah ajakan untuk kembali menjadi manusia. Bukan hanya pintar bicara soal keadilannya saja, tapi berani memperjuangkannya, meski dimulai dari hal yang paling kecil, seperti, tidak menyebar kebencian, menghargai perbedaan, dan membuka ruang untuk berdialog.
Di era algoritma dan tren instan ini, menjadi manusia yang sadar akan HAM adalah bentuk perlawanan yang paling nyata. Karena di tengah dunia yang makin serba digital ini, rasa kemanusiaan adalah satu-satunya hal yang membuat kita tetap nyata.
Penulis: Muhammad Daris Mubarok , Mahasiswa Bimbingan konseling pendidikan Islam STAI Kuningan










Leave a Reply