KUNINGAN – Bagi orang tua yang sedang mencari pondok pesantren untuk pendidikan putra-putrinya pada Tahun Ajaran 2027/2028, persoalan biaya tentu menjadi salah satu pertimbangan utama. Selain kualitas pendidikan, orang tua perlu menghitung biaya awal masuk, kebutuhan bulanan, hingga berbagai kebutuhan tambahan selama anak tinggal di pesantren.
Salah satu pilihan di Kabupaten Kuningan adalah Pondok Pesantren Nurul Huda Kertawangunan. Pesantren yang berada di Desa Kertawangunan, Kecamatan Sindangagung, Kabupaten Kuningan ini telah berkembang menjadi lembaga pendidikan yang menaungi sejumlah jenjang pendidikan formal dan pesantren.
Untuk Tahun Ajaran 2027/2028, berdasarkan informasi biaya yang tercantum dalam brosur penerimaan santri baru, total rincian biaya awal pendidikan yang harus dipersiapkan mencapai Rp5.200.000.
Rincian biaya awal santri baru
Biaya tersebut terdiri dari beberapa komponen. Berikut rinciannya:
| No | Komponen | Biaya |
|---|---|---|
| 1 | Pendaftaran | Rp450.000 |
| 2 | Riset Inovasi & Pengembangan Lembaga | Rp500.000 |
| 3 | Bimbingan Karir & Study Lanjut | Rp500.000 |
| 4 | Pengembangan Perpustakaan & Sumber Belajar | Rp300.000 |
| 5 | MPLS & Usbu’ut Ta’aruf | Rp450.000 |
| 6 | Raport Sekolah & Pondok | Rp350.000 |
| 7 | SPP & Uang Makan | Rp700.000 |
| 8 | Name Tag & Kartu Santri | Rp300.000 |
| 9 | Mutu Pendidikan | Rp300.000 |
| 10 | PSAS/PSAT | Rp600.000 |
| 11 | Pengembangan Sistem & Digitalisasi Pesantren | Rp750.000 |
| Total | Rp5.200.000 |
Sumber Rincian Biaya https://psb.ponpesnurulhuda.org/brosur
Namun, ada satu hal penting yang perlu diperhatikan orang tua.
Angka Rp5,2 juta tersebut jangan langsung dianggap sebagai seluruh biaya yang harus dikeluarkan sampai anak benar-benar siap mondok. Dalam keterangan brosur, biaya tersebut belum termasuk infaq bangunan, seragam, kasur, lemari, kitab, dan buku pelajaran.
Artinya, orang tua tetap perlu menyiapkan dana tambahan di luar Rp5,2 juta untuk kebutuhan perlengkapan awal tersebut.
Bukan hanya soal biaya masuk
Menariknya, biaya yang tercantum bukan hanya berkaitan dengan administrasi masuk pesantren.
Di dalamnya terdapat sejumlah komponen yang menggambarkan program pendidikan yang ingin dikembangkan Nurul Huda Kertawangunan, seperti pengembangan perpustakaan, riset dan inovasi lembaga, bimbingan karier dan studi lanjut, peningkatan mutu pendidikan hingga digitalisasi pesantren.
Program pendidikan yang ditawarkan juga cukup beragam. Brosur mencantumkan program Tahfidzul Qur’an, Bahasa Arab, Kitab Turats, Bahasa Inggris dan Sains.
Selain pendidikan formal dan kepesantrenan, santri juga mendapatkan pilihan ekstrakurikuler seperti komputer, English Club, jurnalistik, futsal, bola voli, badminton, silat, hadroh, qiroah dan kaligrafi.
Dari sisi lingkungan pendidikan, Nurul Huda Kertawangunan juga memiliki pengalaman panjang dalam mengelola pendidikan pesantren. Pesantren ini berdiri sejak 1991 dan kemudian berkembang dengan lembaga pendidikan formal dari tingkat dasar hingga Madrasah Aliyah.
Bagaimana jika dibandingkan dengan sekolah atau pesantren lain?
Jika hanya melihat angka biaya awal Rp5,2 juta, biaya Nurul Huda Kertawangunan terlihat cukup kompetitif.
Sebagai pembanding, Islamic Tahfizh School Sabilul Qur’an Cirebon mencantumkan biaya masuk program boarding sebesar Rp16,3 juta dengan SPP Rp1,45 juta per bulan untuk tahun 2026.
Sementara itu, PPDB Assunnah Cirebon untuk 2027/2028 mencantumkan biaya awal Rp23,8 juta untuk jenjang MTs Boarding dengan SPP Rp1,9 juta per bulan. Untuk MA, biaya awalnya Rp24,65 juta dengan SPP Rp1,9 juta per bulan.
Pondok Pesantren Al-Bahjah Buyut Cirebon juga mencantumkan total biaya masuk Rp15 juta untuk program SMPIQu/SMAIQu, dengan SPP bulan pertama Rp2 juta.
Di Kuningan sendiri, SMPIT Al-Mutazam mencantumkan uang masuk sekitar Rp19 juta dan SPP Rp2,15 juta per bulan berdasarkan informasi biaya TA 2026/2027 yang tersedia.
Perbandingan ini memang tidak sepenuhnya apple to apple karena setiap lembaga memiliki komponen biaya, fasilitas, jenjang, sistem pendidikan dan kebijakan pembayaran yang berbeda. Namun, perbandingan tersebut memberikan gambaran bahwa biaya awal Rp5,2 juta di Nurul Huda berada pada sisi yang relatif ringan dibanding sejumlah sekolah Islam berasrama yang memerlukan belasan hingga puluhan juta rupiah pada saat awal masuk.
Lalu, apakah mondok di Nurul Huda “worth it”?
Ini bagian yang mungkin paling ingin diketahui orang tua.
Kalau ukurannya hanya biaya masuk, jawabannya cenderung: cukup menarik.
Dengan Rp5,2 juta, orang tua sudah mendapatkan sejumlah komponen pendidikan dan layanan yang tercantum dalam rincian awal, termasuk SPP dan uang makan, pengembangan mutu pendidikan, perpustakaan, bimbingan karier, kegiatan awal santri hingga pengembangan sistem digital pesantren.
Tetapi “worth it” atau tidak tentu tidak bisa ditentukan hanya dari murah atau mahalnya biaya.
Bagi orang tua, pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang didapat anak selama bertahun-tahun tinggal di sana?
Pesantren Nurul Huda Kertawangunan sendiri memiliki sejumlah program yang cukup relevan dengan kebutuhan pendidikan saat ini. Selain tahfidz dan kajian kitab, ada Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Sains, teknologi, jurnalistik hingga bimbingan karier dan studi lanjut.
Pesantren ini juga sebelumnya dikenal memiliki kelas unggulan yang mencakup bidang bahasa, kitab dan tahfidz.
Dengan demikian, orang tua tidak seharusnya hanya membandingkan “Rp5,2 juta versus Rp15 juta” atau “Rp5,2 juta versus Rp20 juta”.
Yang lebih penting adalah membandingkan biaya dengan program, fasilitas, pola pengasuhan, kualitas guru, lingkungan pergaulan, target hafalan, pendidikan formal, serta peluang anak setelah lulus.
Ada biaya tambahan yang harus dihitung
Meski biaya awalnya terlihat relatif terjangkau, orang tua tetap perlu berhitung secara realistis.
Karena Rp5,2 juta belum termasuk infaq bangunan, seragam, kasur, lemari, kitab dan buku pelajaran, maka total dana yang benar-benar diperlukan untuk membuat anak siap masuk pondok tentu akan lebih besar.
Ini justru menjadi catatan penting bagi orang tua.
Jangan sampai melihat angka Rp5,2 juta lalu menganggap seluruh kebutuhan masuk pesantren sudah selesai. Sebaiknya orang tua meminta rincian resmi seluruh biaya tambahan sebelum melakukan pendaftaran.
Begitu pula komponen “SPP & uang makan Rp700 ribu” perlu ditanyakan secara langsung kepada panitia mengenai periode pembayarannya dan apa saja yang sudah termasuk di dalamnya.
Pendidikan pesantren bukan sekadar soal murah atau mahal
Pada akhirnya, memilih pesantren adalah keputusan pendidikan jangka panjang.
Biaya yang lebih murah tidak otomatis berarti kualitasnya lebih rendah. Sebaliknya, biaya yang lebih mahal juga tidak otomatis menjamin pendidikan yang lebih baik.
Yang harus dilihat adalah apakah biaya tersebut sebanding dengan pendidikan yang diterima anak.
Dalam konteks Nurul Huda Kertawangunan, angka Rp5,2 juta untuk rincian biaya awal TA 2027/2028 cukup menarik perhatian karena berada di bawah biaya awal sejumlah sekolah Islam boarding yang tersedia di wilayah sekitar Jawa Barat dan Cirebon.
Namun, orang tua sebaiknya tidak berhenti pada angka tersebut. Datang langsung ke pesantren, melihat asrama, bertanya tentang pola makan, pengasuhan santri, kegiatan harian, target pendidikan, biaya tambahan, serta berbicara dengan orang tua santri yang sudah lebih dulu menyekolahkan anak di sana akan memberikan gambaran yang jauh lebih objektif.
Kesimpulannya, jika keluarga mencari pendidikan pesantren dengan biaya awal yang relatif terjangkau tetapi tetap menawarkan kombinasi pendidikan formal, Al-Qur’an, bahasa, sains, kitab dan pengembangan karakter, Nurul Huda Kertawangunan layak masuk daftar pertimbangan.
Tetapi sebelum mengatakan “worth it”, orang tua tetap perlu menghitung total biaya satu tahun, bukan hanya biaya awal Rp5,2 juta.





